Senin, 02 Desember 2019

ASAL DIA BAHAGIA

Shahabat Umar bin Khattab, Rhadiyallahu 'Anhu adalah sosok yang tegas dalam membela yang benar. Dan dalam melaksanakannya begitu tegar.

Perangainya terhadap islam di masa jahiliyah begitu tenar. Di tambah dengan postur tubuh yang besar dan kekar. Juara gulat pasar Ukad, begitu melekat di benak sejak remajanya Umair sebelum menjadi Umar.

Perannya setelah masuk islam begitu membuat gentar. Dan di pilih menggantikan memimpin kaum muslimin sesaat sebelum wafatnya khalifah Abu Bakar. 

Saat menjadi Amirul Mukminin pengganti Kholifah Rasulullah, wilayah islam bertambah lebar. Mencapai seperempat dunia, dengan harum keadilannya di tebar.

Siapa sangka sosok yang demikian sangar. Hingga Syaithan pun jika berpapasan jalan, memilih menghindar. Suatu hari terlihat di marahi istrinya, diam dan dengan seksama mendengar.

Saat di tanya, alasan diamnya dan memilih mendengar. Kenapa tak menjawab, sekalipun tentu sangatlah mampu dan ahli menyusun kata jawaban yang menampar.

Maka, mengalirlah jawaban yang membuat hati tergetar.

"Wahai saudaraku, cinta adalah ketika kebahagiaan seseorang lebih penting dari kebahagiaanmu…”

“Istriku adalah yang memasak masakan untukku, mencuci pakaian-pakaianku, menunaikan hajat-hajatku, menyusui anak-anakku". 

"Jika beberapa kali ia berbuat tidak baik kepadaku, aku selalu mengingat, keburukan itu tak ada harganya dibanding jasa dan pengorbanannya untukku. Dengan seperti itu tak ada tempat yang tersisa untuk kesal dalam hatiku berakar ".

Orang yang sedemikian adil, dan memiliki ketajaman lebih, dalam mengenali yang benar. Dalam olah kata pun begitu hebat dan lancar. Di cari tandingannya sukar. Memilih mendengar dan sabar.

Tak lain karena jiwanya yang besar. Dan lautan hikmah yang begitu kuat mendasar. Menimbang kebaikan dan keburukan dengan timbangan kearifan hati yang tepat menyasar.

Semoga darinya kita belajar.
Dalam mengurus keluarga, dan umat tentunya yang lebih besar.

Senin, 25 November 2019

Boleh Lelah, Tetapi tidak untuk Menyerah

Kita memang banyak masalah. Kadang ndak tau mau apa lagi, dan kemana melangkah. Serasa menghadapi hidup ini lelah. 

Tapi, Allah memerintahkan tilawah. Dan biarlah jalan itu di bentangkanNya mudah.

Kita memang banyak masalah. Menguras tenaga dan pikiran,nyaris menyerah. Kadang pinginnya pasrah. Masa bodo semuanya, terserah. 

Tapi, Allah memerintahkan sholat untuk ibadah. Dan biarlah solusi itu di hadirkanNya hingga kita tak goyah.

Kita memang banyak masalah. Tagihan banyak, sementara penghasilan sulit nambah. Mencoba dan berusaha dah tak terhitung jumlah. Menghadapi semuanya serasa ndak betah. 

Tapi, Allah memerintahkan kita untuk sedekah. Agar transaksi kita, pasti barokah. Dan hasilnya juga berlimpah.

Hidup dan kehidupan, bukan tanpa arah. Bukan pula tak terukur, sehingga membuat menyerah. Bukan pula, semua kebutuhan tanpa di siapkan rezeki yang menjadi jatah.

Semua Allah siapkan untuk menjalani hidup dengan mudah. Juga Allah peringatkan jalan susah. Agar kita memilih dan tidak salah.

Allah siapkan untuk hidup solusi, bila berhadapan masalah. Tak hanya satu, namun beragam pilihan agar terukur mudah. Dan tidak memilih menyerah.

Rangkain masalah dan solusi dalam perintah Allah, untuk kehidupan barokah. Sangat mungkin membuat kita lelah. Tapi bukan untuk menyerah. Boleh lelah, tapi tidak untuk menyerah.. !!


Creat by : K.H Umar Faqihuddin, S.Pd

Tanpa Do'a, Tak ada yang Sempurna

Alangkah indahnya sebait do'a. Yang pernah di ajarkan baginda Rasullah tercinta. Yang kepada umatnya begitu sayang dan cinta.

Hingga tak membiarkan luput, yang belum tersebut dalam do'a. Di himpun dan di susun dalam rangkai kata. Menambal lubang kurang, aib yang terselip dan cacat hajat, menjadi sempurna.

Melewatkannya sebuah kerugian yang tak terkira. Sebagaimana mendapatkannya anugerah yang berharga.

Ya Allah...
Sesungguhnya aku memohon kepadaMu seluruh kebaikan, yang pernah di mohon nabiMu,

dan aku juga memohon perlindungan dari seluruh keburukan, yang pernah di mohon nabiMu,

Engkaulah..tempat segala pertolongan..
Engkaulah..yang Maha Menyampaikan..
Tiada daya dan upaya kecuali kecuali sebab kuasa Allah..

Tak ada yang sempurna dalam menghamba. Kecuali yang menutupnya dengan do'a. Karena kepadaNya bentuk penghambaan ibadah di tujukan semua.

Yang memerintahkan ibadah dan menerima. Paling mengerti ibadah sempurna dari seorang hamba. Dan do'a adalah cara untuk mendapatkannya.

Tidak ada cara sempurna mengurus dunia. Kecuali meminta tolong kepada yang punya. Mengatur lagi menentukan di dalamnya semua.

Karenanya di sebut do'a intisari ibadah hamba. Karena tak mungkin semua sempurna tanpanya. Butuh dan amat sangat butuh kepadanya.

Jangan berhenti untuk berdo'a. Sungguh tak akan layu harapan dengan do'a. Sebagaimana tak akan layu tanaman dengan siraman air setiap saatnya.

Semoga kita, tak pernah lelah dan kecewa untuk berdo'a.


Creat by : K.H Umar Faqihuddin, S.Pd

MENJADI IDOLA

Di cintai Allah, selamat di akherat, dan tentram hidup adalah harapan setiap kita. Namun jalan ke sana, nampak tak mudah, dan tak sederhana.

Adakah cara sederhana, yang kesana kita di bawa ? Hingga bayangan sulit di benak sirna. Setiap diri ringan di bawa ke sana. Dan cepat atau lambat akhirnya nanti sampai juga.

Ada. Dan memang selalu ada. Solusi menuju baik, di buat beragam, agar tak putus asa. Dan kepada jalan keburukan tak tergoda. 

Cara itu, menjadikan Rasulullah idola. Bukan sebatas pemanis kata. Namun benar-benar memenuhi ruang hati dan menhunjam dada. Kalau perlu, menenggelamkan diri dalam mulianya cita-cita.

Kalau menjadi idola. Pasti akan di tiru dari idola apa saja. Di tiru setiap darinya kata. Kata-kata apa saja di tiru sesuai tema.

Kalau menjadi idola. Pasti akan di tiru darinya yang di lakukan dan membiasa. Merasa suka dan menirunya merasa bangga.

Kalau menjadi idola. Pasti akan di tiru darinya sikap dalam menghadapi apa saja. Marah, benci dan gembira. Cerahnya wajah dan sedihnya berduka.

Ketika, seorang shahabat nabi pernah di tanya. Apa yang sudah di siapkan sebagai bekal, untuk menuju akherat kelak di sana ?

Ia menjawab, tidak ada. Hanya kepada Rasulullah begitu cinta. Dan Rasulullah pun bersabda, "Seseorang akan bersama yang di cinta ".

Bersama di dunia. Karena ia akan mecontoh, dan melakukan seperti yang di lakukan yang di cinta. Bersama di akherat, karena tempat kembali yang sama.

Semoga cinta Rasulullah, membawa kita meneladani hidupnya. Dan membawa kelak di akherat dengan Rasulullah bersama.


Creat by : K.H Umar Faqihuddin, S.Pd

AHLI MANFAAT

Kadang tak terlihat. Namun di rasakan dalam diri menghangat. Dan hadir memenuhi hati sebuah semangat. Dan tubuh pun ikut terdampak sehat.

Ibarat nafas pada diri yang kita lakukan setiap saat. Oksigennya tidak terlihat. Namun sehatnya tubuh di rasakan berkali lipat. 

Betapa susahnya jika suplay oksigen terhambat. Atau di dapatkan namun terlambat. Tak jarang yang mengalami pun sekarat. 

Saudara kita yang terdampak asap, begitu merasakan penderitaan yang amat sangat. Terganggu berjalannya kehidupan dan kurang nikmat.

Maka yang di rasakan lebih manfaat. Akan di balasi dengan pahala lebih berkali lipat. Ahli manfaat, di harapkan umat.

Karenanya mencari ilmu, lebih berpahala di banding nawafil sekalipun banyak rekaat. Karena ilmu akan di rasakan lebih manfaat oleh masyarakat.

Karenanya menyeselesaikan kesulitan saudara seiman dalam hajat. Di pahalai lebih di banding i'tikaf di masjid Nabawi selama sebulan, sekalipun nampak lebih hebat.

Lihatlah padi dan rumput yang sama-sama tumbuh di sawah dengan lebat. Sepintas sama, namun padi lebih di rasakan manfaat. Maka padi lebih di butuhkan masyarakat. Dan lebih di hargai berkali lipat.

Allah, Maha Bermanfaat. Semua semesta bergantung kepadaNya setiap saat. Yang ingin lebih bermanfaat, hendaklah kepadaNya mendekat.

Agar sarana bermanfaat berupa harta, tenaga, dan ilmu lebih mudah di dapat.
Agar lebih kuat kita dalam berniat. Untuk menjadi ahli manfaat. Dengan sabda Rasulullah kita mengikat.

"Sebaik-baik manusia adalah, yang paling di rasakan oleh manusia manfaat.."

Manfaat terikat, usia pun tertambat. Manfaat mulai memudar, usia pun terlepas lewat. 

Semoga kita menjadi ahli manfaat. Dan bukan ahli mengumpat. Ataupun ahli madharat.

Creat by : K.H Umar Faqihuddin, S.Pd

Sang Guru...Ustadz Ngajiku

Berbagai cara untuk mengungkap fakta. Di hari guru mulia. Untuk sang pahlawan tanpa tanda jasa. Bahkan menaikan citra. Agar kemulian mereka mengemuka.

Agar yang kurang dari harga. Dari yang di bayarkan manusia. Tertutup dengan sesuatu yang menyesakkan dada. Rasa bangga. Tak berbayar harta. Namun berbayar pahala. Dan itu lebih dari cukup untuk membuatnya kaya. 

Karena kaya sesungguhnya bukan di harta. Tapi, rasa cukup dari semua yang ada. Tak perlu meminta, apalagi mengiba. Dan di hati para guru, ia telah bertahta. Dalam kemilau cahaya kemuliaan bersinggasana.

Hanya gelar biasa. Tak setenar gelar sarjana. Hanyalah panggilan ustadz, dan kadang guru ngaji saja.
Dan tak masuk bilangan profesi istimewa.

Bayaran tak seberapa. Di bayar tinggi pun tak membiasa. Bukan gaji menyebutnya. Tapi, bisyaroh saja. Artinya, sekedar kabar gembira.

Tak heran punya rumah adalah hal luar biasa. Rumah dinas, umum di mana saja. Kontrakan, lebih familiar sebutan akrab di telinga.

Kalau sedikit kaya. Banyak yang curiga. Jangan-jangan,ada amanah yang di salah guna. Kalau miskin, itu sudah pilihan takdirnya. Di maklumi memang begitulah seharusnya bersahaja.

Yang di ajarkan hanya alif ba ta. Di sambung dan di rangkai dan baca. Panjang pendeknya, makroj huruf yang tepat, selalu di periksa.

Bila ada waktu sisa. Di ajari cara berwudlu dan sholat yang benar lengkap dengan prakteknya. Setelah itu cerita. Kalau kelamaan, di tinggal begitu saja.

Mengajarnya di rumah atau di mushola. Lampu redup biasa. Di masjid desa. Di gunung dan terpelosok juga. Lampu obor dan senter senjata pelengkap, bila listrik padam tiba-tiba.

Kurikulumnya itu-itu saja. Ndak ada ulangan ataupun ujian bersama. Di usilin murid-muridnya resiko biasa. Minta di traktir kalau ada rezeki sedikit saja.

Tak mewakili, akan betapa mulianya mereka. Mengenalkan hidup sesungguhnya. Menyelamatkan dunia akherat kita. Berhutang besar tak akan pernah terbayar berapa pun jua.

Guruku, ustadz ngajiku..sosok mulia nan istimewa, semoga yang tak terbayar, karena bodohnya kami dan orang tua. Semoga Allah mengganti yang lebih mulia. Harta, usia dan keluarga yang barokah sepanjang masa.

Selamat hari guru, guru ngaji dan guru semua ilmu, yang merawat dunia tetap bercahaya...


Creat by : K.H Umar Faqihuddin, S.Pd

Minggu, 24 November 2019

Yang Kenal Mengenalkan

Tak terbayangkan. Betapa sepinya tanpa kawan. Betapa menakutkan sendirian. Di tinggal semuanya yang pernah menjadi teman.

Tapi, itulah tujuan. Setiap yang pernah merasakan kehidupan. Akan merasakan kematian. Setiap yang merasakan keramaian, akan merasakan kesepian.

Keluarga, ada saatnya meninggalkan. Yang di cinta, pada saatnya juga terpisahkan. Harta, akan kehilangan. Semua, tak akan lama bertahan.

Yang menitipkan bahagia, kepada yang tidak kekal, akan di buat sedih merasakan. Akan pahitnya kehilangan. 

Yang menitipkan bahagia, kepada yang kekal, akan terus di bawa tak terpisahkan. Di bawa di semua alam dan kehidupan.

Yang kekal adalah kebaikan. Amal sholih yang terhubung dengan Yang Maha Kekal, akan mengekalkan. Tak akan lekang di makan zaman.

Bukankah sejak sekarang kita merasakan ?! Betapa kebaikan setia menyertai di setiap keadaan. Tak pernah sesaat pun meninggalkan.

Tilawah, sholat, sedekah, dzikir, do'a dan semua ragam kebaikan. Akan membukakan jalan. Agar di setiap keadaan di suguhkan dan di pertemukan dengan kebaikan.

Rezeki yang baik, kesehatan yang baik, karir yang baik, pasangan yang baik, keluarga yang baik, lingkungan yang baik dan juga di pilihkan yang baik dari teman-teman.

Jika demikian, cukuplah kita mendapat pelajaran. Untuk tidak berhenti dan mengurangi kebaikan. Kecuali akan berdampak nanti, akan apa saja yang bakal di suguhkan.

Sendirian, setia bersama kebaikan. Di keramaian, setia juga bersama kebaikan. Agar bahagia kita di setiap keadaan di kekalkan.

Semoga dalam kebaikan di takdirkan. Di mudahkan, dan di istiqomahkan...


Creat by : K.H Umar Faqihuddin, S.Pd

KENANGAN BAIK

Perjalanan hidup kita, di batasi usia. Ada yang seiring habis usia, habis pahala. Ada yang tetap tersambung sampai tak berbatas masa.

Masa muda, yang penuh rasa. Bahkan di penuhi ragam cerita. Akhirnya di batasi dengan usia tua. Ada yang habis masa muda, seiring datang usia tua.

Ada yang masih merasa muda. Sekalipun mendatanginya usia tua. Karena kenangan baik masa muda, masih terjaga. 

Dan kenangan baik itu menjadi semangat yang tetap menghangat menggelora. Kenangan baik, seperti sambungan usia menjelma.

Kenangan baik dalam harta. Kenangan baik dalam ilmu dan tutur kata. Kenangan baik dalam keteladanan dalam keluarga. Tak lekang di telan masa.

Karenanya, yang mengenangnya baik, merasa berhutang jasa. Merasa terharu menitik air mata. Bahkan mengenangnya, menyesak dada karena bangga. Dan akhirnya untuknya berdo'a.

Ibarat tanaman yang nyaris kering dan rontok daunnya semua. Tersirami air hujan, tumbuh bersemi kembali dan merekah berbunga.

Dunia indah dengan kebaikan dan pahala. Bila tetap terjaga kebaikan dan pahala, terawat keindahan lebih lama. Sebelum akhirnya kembali berkumpul keduanya di surga.

Jika kenangan bukanlah sesuatu, tak akan menjadi do'a. Para nabi ikut meminta. Agar tak juga hidup mereka, di batasi usia. Dan agar kebaikan mereka, mengabadi dalam kenangan baik terjaga.

"... Dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian".
(As Syuara : 84)

Bila kenangan baik menyambung usia dan pahala. Begitu juga kenangan buruk, memutus usia dan pahala. Bahkan seperti habis usia sebelum masa.

Semoga kenangan baik kita terjaga. Kebaikan yang terus mengalirkan pahala. Sekalipun tak lagi hidup bersama.


Creat by : K.H Umar Faqihuddin, S.Pd

Nail Henna

Maspad Shofy

Clodi

Handsock